Selasa, 26 Maret 2024

Bangkit dari kegagalan

        mengapa semua orang bisa sampe "frustasi" dalam kehidupan yang di alami? rata-rata seseorang yang mengalami "frustasi" mustinya sulit untuk bangkit dalam kesadaran sepenuhnya. Artinya "psikoanalis" dalam tahap ini sangat sulit untuk diaktifkan kembali oleh otak dan mengakses segala problem yang jadi pemicu "frustasi" tersebut, lalu bagaimana cara atau metode dalam mencari solusi yang paling solutif dan memiliki potensi untuk sampai pada tahap kesadaran sepenuhnya (konsientisasi)?  Berikut ini kita akan coba memahami apa sih itu "frustasi"?

1APA ITU FRUSTASI?

 "Menurut Daradjat Zakiah (Andhy Irawan, 2011), frustasi adalah suatu keadaan dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya kepuasan atau suatu tujuan akibat adanya halangan atau rintangan dalam usaha mencapai kepuasan atau tujuan tersebut".

Tujuan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan sosial maupun individu, bisa saja kita sebut tujuan adalah (Asosiasi) sosial, dan saya rasa "tujuan" adalah bagian dari foundamental (Dasar) kehidupan masyarakat sosial, oleh karena itu tujuan dalam kehidupan tidak bisa dihilangkan dengan dalih apapun.

2. PENYEBAB KEGAGALAN




"Hal ini sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Zimmerer yang dikutip oleh Suryana, bahwa faktor yang mempengaruhi kegagalan seorang wirausaha adalah tidak kompeten dalam manajerial, kurang berpengalaman, kurang dapat mengendalikan keuangan, gagal dalam perencanaan, lokasi kurang memadai, kurangnya pengawasan".

Untuk mencegah konsekuensi-konsekuensi fatal yang dimungkinkan terjadi dalam kehidupan sosial, yaitu dengan cara menyiapkan mental terlebih dahulu, artinya mental saja tidak cukup untuk menjalani kehidupan, oleh karena itu kehidupan butuh modal, usaha yang konsisten dan tindakan, perancangan untuk sampai pada tujuan, meskipun sifatnya masih fleksibel ataupun Astarak (fiksi),

3. MENGATASI KEGAGALAN

Memulai langkah dengan memperhitungkan "konsekuensi",menurut saya inilah cara yang paling efektif saat ini untuk mencegah kegagalan yang di mungkinkan akan terjadi, ntah kapan terjadinya? Oleh karena itu dengan memperhitungkan sebuah konsekuensi yang dimungkinkan, setidaknya kita sudah memiliki modal utama untuk bangkit dari konsekuesi (kegagalan) yang berhasil kita prediksi. Toh juga kegagalan sifatnya hanya sementara, karena inti dari sebuah usaha untuk sampai pada kehidupan yang layak ialah sebagai berikut;

  • Kerja keras
  • Konsisten

1. Kerja keras adalah upaya untuk mencoba sesuatu dengan sungguh-sungguh, artinya sesuatu yang didambakan tidak akan pernah bisa dicapai jika kita keluar dari garis kesungguhan, sebab kesungguhan dalam kerja keras adalah suatu relevansi yang sangat komplexs.

2. Konsisten, kenapa harus konsisten? Kehidupan yang paling didambakan oleh masyarakat atau individu tidak akan pernah sampai pada puncak yang tinggi jikalau tidak terus menelusuri jalan yang berlika-liku. Menurut para Ahli konsisten itu ialah sebagai berikut;

"Konsistensi adalah suatu hal yang kita yakini secara prinsip dan terus menerus kita lakukan. Seperti yang dikemukakan Evertson (2011: 184), —konsistensi berarti mempertahankan ekspektasi yang sama bagi perilaku yang pantas dalam sebuah kegiatan tertentu sepanjang waktu dan bagi seluruh siswa“.

Minggu, 03 Desember 2023

Birokrasi dan feodalisme kampus

 Feodalisme dan Birokrasi kampus 

         Bekerja di meja dengan aturan yang ketat adalah sangat membosankan, namun itulah konsekuensi logis dari seorang birokrat. 

Implementasi birokrasi dikampus seharusnya menjadi elemen baru dan sebagai penggerak ataupun pendorong untuk terealisasikannya hak-hak dan kebutuhan para mahasiswa/mahasiswi dikarenakan birokrat sepenuhnya mempunyai tanggung jawab atas hak-hak mahasiswa dan membantu mahasiswa terkait problem administratif. Birokrasi, selain dari pada itu membantu mahasiswa, pun juga birokrasi sebagai purusa hukum dan perindividunya sebagai purusa kodrat, sebagaimana yang telah diuraikan dalam akhir abad pertengahan juga sebagai penerima delegasi dari feodalisme kampus yaitu apa yang dianggap atau dipersepsikan oleh mahasiswa terhadap birokrat tidak lain bagian dari tugas yang paling fundamental. 

Para mahasiswa bahwasanya tidak ingin berasumsi," Jangan-jangan sinopsis dari delegasi yang dikeluarkan oleh feodalisme kampus itu ialah menomorsatukan kebutuhan kampus bukan mahasiswa sebagai pejuang kampus, maka dapat ditarik konsekuensinya akan berdampak pada mahasiswa, jika ditilik dari perspektif realitas kampus.


 

        Feodalisme kampus itu sendiri ialah sekelompok atau individu yang sangat anti dengan kritik artinya, apa yang disebut dalam abad pertengahan sebagai hak mutlak ada pada individu atau sekelompok feodal. Hak mutlak ialah hak untuk bertindak dan sepenuhnya tidak boleh dibatasi oleh birokrasi maupun mahasiswa, jadi segala yang menjadi hak mahasiswa kini berevolusi menjadi hak subyektif, sekiranya hanya mahasiswa yang terpilih, misalnya mahasiswa yang terpilih mendapatkan KIP namun harus dipotong pajak oleh birokrasi, apakah birokrasi mengabstraksiakan surplus? Padahal program KIP adalah program dari pemerintah. Sedangkan konsekuensi yang dimungkinkan sangat fatal akibatnya dari penggunaan hak mutlak feodalime tersebut diantaranya terdapat kewajiban untuk tidak melanggar peraturan, misalnya apa yang ditetapkan oleh birokrasi atas delegasinya dari feodalisme terkait problem administrasi yang dianggap oleh mahasiswa sebagai surplus.

         Faktanya atas seruan demonstrasi para mahasiswa terkait resolusinya yaitu menggugat kebijakan birokrasi, tentu dengan data yang konkret, namun sebaliknya realitas yang dihadapi oleh rekan-rekan demonstran kini menjadi polemik dikalangan mahasiswa/mahasiswi bahwasanya terdapat oknum feodal mengintimidasi dua aktor yang menyerukan demonstrasi bahwa, " pada hari Jum'at tepat pukul 14-00 untuk berkumpul" dan akan segera menuju kampus untuk menyuarakan berbgai tuntutan maupun resolusi, dengan intimidasi D'O, yaitu dua rakan demonstran yang akan menjadi orator, dan salah satunya ketua DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa). 

    Para mahasiswa berkontemplasi, " Ini ranah intelektual ataukah singgasana raja? ". Sekiranya mahasiswa yang faham kiri pasti tau jawabannya. Bahwasanya secara antecedent, hak-hak mutlak yang diperoleh oleh birokrasi itu adalah delegasi dari feodalisme kampus melalui dogma-dogma, dan bodohnya mahasiswa ialah, mahasiswa hanya menjadi dogmatis terhadap dogmatik itu. Ini adalah konsekuensi fatal apabila mulut mahasiswa dibungkam, janji yang dibutuhkan sekarang, di ingkari dimasa depan. 

Bangkit dari kegagalan

        mengapa semua orang bisa sampe " frustasi"  dalam kehidupan yang di alami? rata-rata seseorang yang mengalami " frust...